BLANTERORBITv102

    Mengenal Baju Digital

    Sabtu, 18 Februari 2012

    Ada sebuah kecenderungan dalam industri komputer dan elektronika, yakni mengembangkan perangkat yang bisa dikenakan di tubuh penggunanya (wearable). Kecenderungan ini dikenal dengan istilah era post-PC. Saat ini, kita tengah berada di permulaan era ini, dan beberapa perangkat wearable ini telah siap diluncurkan ke pasaran. Fase berikutnya dari era post-PC adalah mengintegrasikan komputer dan perangkat elektronika lainnya ke dalam baju yang kita kenakan.

    Dalam beberapa tahun ke depan, lemari kita mungkin dijejali dengan baju digital atau smart shirt yang bisa membaca detak jantung dan napas kita, atau jaket musikal yang dilengkapi dengan keypad berbahan kain. Monitor light-emitting diode (LED) kecil mungkin juga ditanamkan pada baju untuk menampilkan teks atau gambar digital.

    Dengan pakaian terkomputerisasi ini, kita tidak lagi membutuhkan kabel yang melilit tubuh, atau memenuhi saku baju dengan MP3 player atau gadget lainnya hanya untuk mendengarkan musik atau menghitung denyut nadi sehabis berolahraga. Baju digital ini ditengarai akan menjadi puncak dari pergadgetan portabel high-tech.

    Sebagaimana pakaian lainnya, baju digital pastilah berbahan dasar benar. Benang-benang yang kita kenal selama ini, seperti katun, polyster atau rayon, tidak dapat menghantarkan arus listrik yang dibutuhkan untuk pembuatan pakaian digital. Meski demikian, benang metalik sebenarnya bukanlah barang baru dalam industri mode.

    Para peneliti pada Media Lab MIT (Massachusetts Institute of Technology) menggunakan sutra organza, kain unik yang telah digunakan untuk membuat pakaian di India selama paling tidak satu abad terakhir. Sutra organza ini merupakan bahan yang ideal untuk pembuatan baju digital karena terbuat dari dua serat yang bisa menghantarkan listrik.

    Serat pertama merupakan benang sutra biasa. Sementara serat kedua, yang ditenun berlawanan arah dengan serat pertama, adalah sutra yang dibungkus dengan copper foil (kertas tembaga) yang sangat tipis. Copper foil inilah yang memberikan sutra organza kemampuan untuku menghantarkan listrik.
    Menurut para peneliti dari MIT, benang metalik ini didesain menyerupai inti kabel telepon. Jika kabel telepon yang bergulung seperti mie instan itu dipotong, kita akan menemukan konduktor yang terbuat dari helaian tembaga yang membungkus benang inti dari nylon atau polyster. Karena dapat bertahan pada temperatur yang tinggi, benang metalik ini dapat dijahitkan atau dibordirkan pada kain.

    Bukan hanya menjadi penghantar listrik yang baik, serat-serat pada sutra organza dapat ditenun terpisah sehingga menjadi penghantar listrik terpisah (individual). Secarik kain sutra organza akan berfungsi seperti kabel IDE (yang berbentuk pita atau disebut juga ribbon cable) yang digunakan untuk menghubungkan harddisk dengan controller pada motherboard.

    Begitu kain digital ini dipotong mengikuti pola baju, komponen-komponen lainnya (seperti resistor, kapasitor dan kumparan) akan disematkan di atas potongan kain. Komponen-komponen tersebut akan dijahitkan langsung pada kain. Komponen tambahan seperti LED, kristal dan komponen piezoelektrik lainnya, bila perlu disolderkan langsung pada benang metalik.

    Sementara perangkat elektronika lainnya dapat dikancingkan pada kain menggunakan kancing khusus yang menembus benang metalik untuk menciptakan kontak elektris. Jenis perangkat terakhir ini dapat dengan mudah dilepaskan, bila baju tersebut akan dicuci.

    Lain MIT, lain pula GT (Georgia Institute of Technology). Para peneliti dari GT telah mengembangkan jenis benang lain untuk membuat smart shirt. Baju komputer dari Georgia ini terbuat dari serat optik plastik, dan serat khusus lainnya yang ditenun ke dalam kain. Serat konduktif listrik dan optikal ini memungkinkan baju digital dan perangkat lain berkomunikasi secara wireless, mentransfer data dari sensor yang disematkan pada baju.

    Pengembangan benang digital ini membuka peluang bagi munculnya industri baju digital. Dalam satu dekade ke depan, kita mungkin akan menemukan banyak pakaian digital yang dipajang di rak-rak pusat perbelanjaan. Beberapa perusahaan seperti IBM, Levi, Philips, Nike, dan SensaTex, telah menjajal kemungkinan membawa kita ke era e-wardrobe.

    Di Eropa, Levi`s bahkan telah memasarkan jaket musikal yang dikembangkan oleh Media Lab MIT. Jaket musikal dari Levi`s ini terbuat dari sutra organza, yang dilengkapi dengan keypad yang semuanya terbuat dari benang digital. Keypad kapasitif ini sangat fleksibel, tahan lama dan responsif terhadap sentuhan.
    Jaket Musikal dari Media Lab MIT (sumber: http://opera.media.mit.edu/levis/)

    Sumber: Tabloid PC Mild

    Author

    Iqbal Alghifari

    BLOGGER DARI KALIMANTAN SELATAN