Kamis, 03 November 2011

Pidato Steve Jobs di Stanford University

 Pada 12 Juni 2005, Steve Jobs menjadi pembicara utama pada acara wisuda di Stanford University, yang berlangsung di Stanford Stadium. Mengenakan jins terbungkus toga, Jobs menyampaikan ceramahnya di hadapan sekitar 23.000 wisudawan dan keluarga mereka yang memenuhi stadion.
Presiden Stanford University, John Hennessy, mengatakan bahwa Jobs mewujudkan semangat universitas melalui "keinginannya untuk menjadi orang berani dan menemukan arah baru". Hennessy juga mengakui reputasi Jobs sebagai seorang inovator, visioner dan pendukung pendidikan berkat upayanya mengembangkan kemitraan di tahun-tahun awal Apple ketika memperkenalkan komputer ke sekolah-sekolah. Berikut ini ceramah atau pidato Steve Jobs di Stanford University yang saya ambil dari buku"Steve Jobs Otak Genius Di Balik Kesuksesan Apple".

Steve Jobs
 Pidato di Stanford University
Saya merasa terhormat berada disini bersama Anda pada acara wisuda salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tak pernah lulus dari perguruan tinggi. Terus terang, ini saat terdekat saya dengan sebuah acara wisuda perguruan tinggi. Hari ini saya ingin menyampaikan tiga kisah dari hidup saya. Hanya itu. Tak lebih. Hanya tiga kisah.
Kisah pertama adalah tentang menghubungkan titik-titik
Saya drop out dari Reed College setelah enam bulan pertama, tapi kemudian saya masih kuliah pada sekitar 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar keluar. Jadi, mengapa saya drop out?

Hal itu dimulai sebelum saya lahir. Ibu biologis saya adalah seorang lulusan perguruan tinggi yang masih muda dan tidak menikah, dan dia memutuskan menawarkan saya untuk diadopsi. Dia ingin sekali saya diadopsi oleh sepasang lulusan perguruan tinggi, maka segalanya diatur agar saya bisa diadopsi saat kelahiran oleh seorang pengacara dan istrinya. Namun ketika saya lahir, mereka mengaku sebenarnya menginginkan bayi perempuan. Maka orangtua angkat saya, yang berada dalam daftar tunggu, mendapat telepon tengah malam "Kami mendapat bayi lelaki yang tak diharapkan, kalian ingin dia?" Mereka menjawab "Tentu saja". Ibu biologis saya kemudian tahu bahwa ibu angkat saya tak pernah lulus dari perguruan tinggi dan ayah angkat saya tak pernah lulus dari SMA. Dia menolak menandatangani kertas adopsi terakhir. Dia baru mengalah beberapa kemudian setelah orang tua saya berjanji bahwa suatu hari saya akan masuk perguruan tinggi.

Dan 17 tahun kemudian, saya benar-benar kuliah di perguruan tinggi. Tapi naifnya saya memilih perguruan tinggi hampir sama mahalnya dengan Standford, dan semua tabungan orangtua saya habis untuk biaya kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak melihat kelebihan kuliah. Saya tak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup saya dan saya tak tahu bagaimana perguruan tinggi akan membantu saya mengetahuinya. Dan disana saya menghabiskan semua uang yang telah dikumpulkan orangtua saya sepanjang hidup mereka. Maka saya memutuskan drop out dan saya percaya bahwa saya akan baik-baik saja. Memang sangat menakutkan saat itu, tapi kalau sekarang melihat ke belakang, saya melihat itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat. Saat memutuskan keluar, saya bisa menghentikan mata kuliah wajib yang tidak menarik saya, dan mulai mengikuti kuliah-kuliah lain yang tampak menarik.

Itu bukan kisah romantis. Saya tak punya kamar asrama, maka saya tidur di lantai kamar seorang teman, saya mencari uang untuk makan dengan menjual botol-botol coke bekas, dan saya berjalan sebelas kilometer melintasi kota tiap hari minggu untuk mendapat makanan enak di Biara Hare Khrisna. Dan banyak hal yang awalnya menjadi sandungan karena saya mengikuti keingintahuan dan intuisi saya berubah kemudian menjadi tak ternilai harganya. Saya berikan satu contoh:

Reed College pada saat itu mungkin menawarkan pelajaran kaligrafi terbaik di negara ini.Di sepanjang kampus, bertebaran poster, label, dan lukisan kaligrafi tangan yang indah. Karena saya sudah drop out dan tidak harus mengambil kelas wajib, saya memutuskan mengambil satu kelas kaligrafi untuk belajar bagaimana membuat kaligrafi itu. Saya belajar tentang huruf serif dan san serif, tentang berbagai besaran ruang di antara kombinasi-kombinasi huruf, tentang apa yang membuat tipografi yang indah menjadi lebih indah. Itu kehalusan yang indah, historis, dan artistik yang tak bisa ditangkap ilmu pengetahuan, dan hal itu membuat saya terpesona.

Saya tak pernah berpikir kaligrafi akan memberikan aplikasi praktis dalam hidup saya. Tapi sepuluh tahun kemudian, ketika kami sedang mendesain komputer Macintosh yang pertama, pelajaran itu muncul kembali di kepala saya. Dan kami menerapkannnya pada Mac. Itu komputer pertama dengan tipografi yang indah. Jika saya tak pernah mengikuti mata kuliah tunggal itu di perguruan tinggi, komputer Mac tak akan pernah memiliki berbagai jenis huruf atau ruang-ruang antarhuruf yang proporsional. Dan karena Windows menyalin Mac, tampaknya tak akan ada komputer personal yang memiliki jenis-jenis huruf itu. Jika saya tidak pernah drop out, saya tak akan pernah mengikuti kelas kaligrafi ini, dan komputer-komputer personal mungkin tak akan memiliki tipografi yang indah seperti sekarang. Tentu saja tak mungkin menghubungkan titik-titik di masa depan ketika saya masih di perguruan tinggi. Tapi sangat, sangat jelas jika kita melihat ke belakang sepuluh tahun kemudian.

Lagi pula, Anda tidak bisa menghubungkan titik-titik itu di masa depan; Anda hanya bisa menghubungkan titik-titik itu dengan melihat masa lalu. Maka Anda harus percaya bahwa titik-titik itu akan saling berhubungan di masa depan. Anda harus mempercayai sesuatu, ketekunan Anda, takdir, kehidupan, karma, apa saja. Pendekatan ini tidak pernah membuat saya jatuh dan malah membuat semua perbedaan dalam kehidupan saya.

Kisah kedua saya adalah tentang cinta dan kehilangan
Saya beruntung, saya menemukan sejak awal saya mencintai berbuat sesuatu. Saya dan Woz memulai Apple di dalam garasi rumah orangtua saya ketika saya berusia 20 tahun. Kami bekerja keras, dan dalam sepuluh tahun Apple tumbuh dari hanya dua orang kami di dalam garasi menjadi sebuah perusahaan bernilai 2 miliar dolar dengan lebih dari 4.000 karyawan. Kami sudah merilis kreasi kami, Macintosh, setahun sebelumnya, dan saya baru berusia 30 tahun. Dan kemudian saya dipecat. Bagaimana bisa kau dipecat dari perusahaan yang kau dirikan? Well, ketika Apple tumbuh, kami merekrut seseorang yang saya pikir sangat berbakat untuk bersama dengan saya menjalankan perusahaan, dan selama tahun pertama atau lebih segalanya berlangsung baik. Namun kemudian visi kami tentang masa depan mulai berbeda dan akhirnya kami mulai jatuh. Saat itu, Dewan Direktur berada di sisi dia. Maka dalam usia 30 tahun saya dikeluarkan. Dan dikeluarkan di depan umum. Apa yang telah menjadi fokus dalam seluruh masa dewasa hidup saya telah hilang, dan itu sangat menghancurkan.

Selama beberapa bulan, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa bahwa saya telah membuat sedih generasi entrepreneur terdahulu, bahwa saya telah menjatuhkan tongkat panglima ketika tongkat itu diberikan kepada saya. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena memutar sekrup begitu buruk. Saya merasa gagal di depan khalayak dan saya bahkan berpikir untuk pergi jauh darisana. Tapi pelan-pelan sesuatu mulai menyingsing di dalam diri saya, saya masih mencintai apa yang saya lakukan. Kejadian di Apple tidak mengubah hal itu sedikit pun. Saya sudah ditolak, tapi saya masih jatuh cinta. Maka saya memutuskan untuk memulai lagi.

Saya tidak melihatnya saat itu, tapi kemudian saya melihat bahwa dipecat dari Apple merupakan hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Beratnya beban menjadi orang sukses digantikan ringannya menjadi pemula kembali, kurang yakin tentang segalanya. Hal itu membebaskan saya masuk periode paling kreatif dari hidup saya.

Selama lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, perusahaan lain yang dinamakan Pixar, dan jatuh cinta kepada seorang wanita luar biasa yang akan menjadi istri saya. Pixar kemudian membuat film animasi komputer pertama di dunia, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Dalam sebuah tikungan kejadian yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung renaisans Apple sekarang. Saya dan Laurence pun memiliki keluarga yang indah.

Saya sangat yakin bahwa semua ini takkan terjadi jika saya tidak dipecat dari Apple. Ini seperti kita minum obat.Pasien memang memerlukannya. Kadang-kadang kehidupan menghantam kepala kita dengan bata. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya bertahan adalah saya mencintai apa yang saya kerjakan. Dan apa yang terjadi pada pekerjaan sama halnya dengan apa yang terjadi pada orang yang kita cintai. Pekerjaan kita akan mengisi sebagian besar kehidupan kita, dan satu-satunya cara untuk benar-benar memuaskannya adalah mengerjakan apa yang kita yakini pekerjaan besar. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah mencintai apa yang kita kerjakan. Jika kalian belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan berhenti. Seperti halnya semua materi dalam hati, kalian akan tahu kapan menemukannya. Dan, seperti jenis hubungan apa pun yang hebat, pekerjaan besar itu akan makin baik sejalan dengan berlalunya tahun demi tahun. Jadi, tetaplah mencari sampai kalian menemukannya. Jangan berhenti.

Cerita ketiga saya adalah tentang kematian
Ketika berusia 17 tahun, saya membaca kutipan seperti ini: "Jika kau hidup setiap hari seakan-akan itu adalah hari terakhirmu, suatu hari akan benar." ("If you live each day as if it was your last, someday you`ll most certainly be right.") Kutipan ini mengesankan saya, dan sejak itu, selama 33 tahun terakhir, saya menatap cermin setiap pagi dan bertanya pada diri sendiri: "Jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya, akankah saya ingin melakukan apa yang harus saya lakukan hari ini?" Dan manakala jawabannya adalah "Tidak" dalam waktu beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya perlu mengubah sesuatu.

Mengingat bahwa saya akan mati cepat adalah alat penting yang pernah saya lakukan untuk membantu saya membuat pilihan besar dalam hidup. Sebab hampir segala hal-semua ekspektasi eksternal, semua kebanggaan/kesombongan, semua ketakutan akan rasa malu atau kegagalan,-semua itu akan mengerut di depan wajah kematian, meninggalkan hanya hal yang benar-benar penting. Mengingat bahwa kita akan mati adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindarkan perangkap berpikir bahwa kita akan kehilangan sesuatu. Kita sudah telanjang. Tak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati kita.

Sekitar setahun lalu, saya didiagnosis menderita kanker. Saya menjalani scan pada pukul 07.30 pagi, dan hasilnya jelas menunjukkan ada tumor di dalam pankreas saya. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter bilang bahwa itu jenis kanker yang tak bisa diobati, dan bahwa saya hanya bisa bertahan tak lebih dari tiga sampai enam bulan. Dokter saya menasihatkan agar saya pulang dan bersiap menangani urusan saya, yang tak lain kode dokter agar saya bersiap untuk mati. Itu berarti saya harus mencoba bilang pada anak-anak tentang segala hal yang saya pikir akan butuh waktu sepuluh tahun hanya dalam waktu beberapa bulan. Itu berarti meyakinkan bahwa segala perincian finalnya sudah rampung sehingga semuanya akan mudah bagi keluarga saya. Itu berarti bagi saya harus mengucapkan selamat tinggal.

Saya hidup dengan diagnosis itu setiap hari. Sore itu saya menjalani biopsi, yakni para dokter memasukkan endoskop ke kerongkongan saya, melalui perut saya dan masuk ke usus saya, memasukkan sebatang jarum ke dalam pankreas saya dan mengambil beberapa sel dari tumor itu. Saya tenang saja, tapi istri saya, yang juga ada disana, bilang bahwa ketika para dokter menunjukkan sel-sel itu di bawah mikroskop, mereka berteriak sebab diketahui bahwa itu jenis kanker pankreas yang sangat jarang dan bisa diobati dengan operasi. Saya menjalani operasi dan saya baik-baik saja sekarang.

Itulah saat terdekat saya dengan kematian, dan saya harap itu tetap yang terdekat selama beberapa dekade ke depan. Setelah selamat melalui tahap itu, saya sekarang bisa mengatakan hal ini kepada kalian dengan sedikit lebih yakin dibanding ketika kematian merupakan konsep yang berguna tapi murni intelektual:

Tak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang sana ingin pergi ke surga tak ingin mati untuk pergi ke sana. Namun kematian adalah takdir bagi kita semua. Tak pernah ada orang bisa lolos dari kematian. Dan memang begitulah, sebab kematian sangat mungkin adalah penemuan tunggal terbaik kehidupan. Kematian adalah agen perubahan kehidupan. Kematian menyisihkan golongan tua memberikan jalan buat kaum muda. Sekarang kaum muda itu adalah Anda, tapi suatu hari, tak lama lagi dari sekarang, kalian akan pelan-pelan menjadi tua dan tersisihkan. Maaf begitu dramatis, tapi ini betul sekali.

Waktu Anda sangat terbatas, maka jangan membuang-buang waktu. Jangan terperangkap dogma-yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan keriuhan pendapat orang lain membenamkan suara hati Anda sendiri. Dan yang terpenting, tanamkan keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda. Keduanya sedikit banyak tahu apa yang benar-benar Anda inginkan. Segala hal yang lain adalah nomor dua.

Ketika saya muda, ada sebuah terbitan yang mengagumkan yang berjudul The Whole Earth Catalog, yang merupakan salah satu kitab suci generasi saya. Buku ini ditulis seseorang bernama Stewart Brand yang tinggal tak jauh dari sini, di Menlo Park, dan ia membawa buku itu ke kehidupan dengan sentuhan puitisnya. Itu terjadi pada akhir 1960-an, sebelum komputer personal dan desktop diluncurkan, sehingga buku itu disebut dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Buku ini mirip semacam Google dalam bentuk buku, 35 tahun sebelum Google muncul: idealistis, dan penuh dengan alat yang rapi dan gagasan yang hebat.

Stewart dan timnya memasukkan/mengambil beberapa isu dari The Whole Earth Catalog, dan kemudian ketika (buku ini) berjalan di lintasannya, mereka menerbitkan edisi terakhir. Itu terjadi pada pertengahan 1970-an, dan saya berusia sama dengan kalian. Di sampul belakang terbitan terakhir mereka terdapat foto jalan desa pada pagi hari, pemandangan yang mungkin kalian dapat jika kalian senang bertualang. Di bawah gambar itu terdapat tulisan: "Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh." ("Stay Hungry. Stay Foolish.") Itu pesan perpisahan mereka sebagai kesimpulan. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya selalu ingin demikian untuk diri saya sendiri. Dan sekarang, setelah Anda lulus, saya ingin hal itu untuk Anda.

Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.
Terima Kasih Banyak.

Pidato Steve Jobs di Stanford University Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mohammad Iqbal Al Ghifari Al Awalaien

9 komentar:

Cinta Indonesia Blog mengatakan...

Wahh dasar mantapp Stave Jobs neh tetap ane Cinta Bill Gates kwkwkwk

admin blog mengatakan...

@cinta indonesia blog: hehe... mantap.. ambil yg positif dari kedua tokoh tersebut

blogku mengatakan...

mantabsss.....ijin share....

Iqbal Al Ghifari mengatakan...

@blogku: silahkan di bagi...

Anonim mengatakan...

untuk yang bingung artinya Stay Hungry Stay Foolish ... kurang lebih begini

Stay Hungry: don't be too easily satisfied or grow too comfortable.
Stay Foolish: Brand and his folks liked to think of themselves as "fools" in an overly serious world.

Uzanks Al Ghifari mengatakan...

makasih udh memberi penjelasan lebih rinci...

Anonim mengatakan...

VERY GOOD! JUST TAKE THE GOOD THING OF IT TO IMPROVE OUR SELVES BE BETTER!

OEN-OEN mengatakan...

ijin share in my posting boz, thanx :D.

very inspire poollll...

Obat Stroke mengatakan...

Keren setelah sebelumnya saya lihat videonya sekarang saya bisa baca juga terjemahannya . mantab abis gan..

Di tunggu kunjungan baliknya di http://www.acemaxspusat.com