Jumat, 17 Juni 2011

Jujurlah Padaku!

Saat menulis catatan kecil ini, saya tertarik dengan beberapa headline berita yang sedang hangat, salah  satunya yaitu berita di Jawa Timur seorang Ibu bernama Siami melaporkan bahwa anaknya yaitu Alif disuruh mencontek massal oleh gurunya. Ibu Siami memberitahukan hal tersebut kepada Sekolah dan Komite Sekolah, tetapi tidak ada tanggapan, lalu melaporkan ke Dinas Pendidikan dan diproses dengan dicopotnya Kepala Sekolah dan diturunkan pangkat Guru yang menyuruh.

Berita yang lagi "hot" ini pun mendapat dukungan, baik dari pejabat, politisi, LSM, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Selain dukungan dari dunia nyata, dunia maya pun membuat gerakan-gerakan yang mendukung sikap Ibu Siami dan Alif. Dan kabar terakhir, bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang ibu Siami dan Alif untuk datang ke istana. Sehingga dengan adanya kasus kecurangan UN seperti inilah, paling tidak Presiden bertindak untuk memberantasnya dimulai dari mengubah sistem pendidikan kita.


Terbetik dipikiran saya untuk mencari hal menarik dari berita di atas yaitu dengan memasukkan keyword di Google yaitu "kejujuran" yang akhirnya tampil paling atas yaitu berita ibu Siami dan Alif. Setelah itu, saya masukkan keyword "kebohongan" (lawan kata) maka muncullah urutan teratas yaitu berita kecurangan Uiian Nasional terkait dengan berita Ibu Siami. Hal ini tidak mengejutkan karena memang penelusuran di Google menggunakan rentang waktu 24 jam terakhir, sehingga hasil yang dicari merupakan kabar atau berita aktual.


Kejujuran dan kebohongan memang beda-beda tipis, susah sekali untuk menentukan sesuatu hal yang berkaitan dengan kedua sifat tersebut. Jujur ibarat benda berharga tapi sulit dicari di zaman sekarang. Bohong mudah dilakukan tanpa merasa bahwa telah melakukannya. 


Harga mahal yang didapatkan dari kejujuran telah dirasakan Ibu Siami, Alif dan keluarga, yaitu diusir dari kampungnya karena banyak yang tidak suka dengan aksinya. Tetapi, setelah mendapat dukungan dari banyak rakyat Indonesia, maka pada berita terakhir tokoh masyarakat desa tempat tinggal Ibu Siami mendatanginya dan meminta untuk kembali ke kampungnya.


Evaluasi terhadap Ujian Nasional (UN) yang selalu dilaksanakan tiap tahunnya. Memang kecurangan selalu terjadi pada pelaksanaannya, dan selalu terungkap di media tetapi cepat menguap hilang begitu saja tanpa ada tindak lanjut untuk memperbaikinya. Memang Ujian Nasional diperketat mulai dari soal yang dibuat lima jenis, pembuatan dan pendistribusian soal dijaga oleh satuan keamanan, hingga pelaksanaan Ujian Nasionalnya yang diawasi tidak hanya pengawas independen tapi juga polisi. Serasa menakutkan sekali Ujian Nasional.


Tujuan Pendidikan Nasional yang tertera pada Undang-Undang menginginkan terbentuknya peserta didik berakhlak mulia (salah satu dari banyak tujuan). Akhlak mulia termasuk didalamnya adalah kejujuran ditanamkan di setiap peserta didik untuk menjadi pribadi amanah (dapat dipercaya) dalam kehidupan bermasyarakat. 


Semoga saja dengan adanya kasus ini menjadikan kita banyak belajar "Jujur" dalam kehidupan sehari-hari. Jujurlah pada diri sendiri, jujurlah pada orang lain dan jujurlah padaku!

Jujurlah Padaku! Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mohammad Iqbal Al Ghifari Al Awalaien

4 komentar:

Idblognetwork Pilar Blogger mengatakan...

TErkadang Jujur sulit cuy,, dan sedikit trik diperlukan untuk terus maju :)

Iqbal Al Ghifari mengatakan...

@ayead: memang bro jujur itu sulit bin susah, trik dan tipsnya bagi2 dong hehehe :)

@hudauzumaki mengatakan...

Kata pepatah "Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana", apakah sudah tidak berlaku lagi pepatah tersebut?

Iqbal Al Ghifari mengatakan...

@huda
sepertinya pepatah it tidak berlaku lagi, jujur ibarat barang langka yg susah dicari pembeli di pasar. kalo barang langka, pasti mahal, dan pasti harus bersusah payah mendapatkannya.